Skip to main content

Kehilangan Hati Nurani

Dalam keheningan suara bising mesin – mesin yang melintas di bawah sorotan lampu malam
Terdengar deru tangisan dari seorang istri
Seorang istri yang matanya sayu – sayu seraya ingin berteriak memanggil kembali dia, sang nahkoda yang dipaksakan harus pergi
Dia hanya bisa mematung dan terlihat sorotan matanya yang bimbang

Mungkin hatinya ingin bertanya kepada Tuhan, sang pencipta semesta
Mungkin tangannya ingin mengoyak tangan – tangan mereka yang tak punya welas asih
Dan mungkin mulutnya ingin mengumpat manusia – manusia sang penghakim itu

Di sisi kehingan lain, terdengar seruan seorang ibu
Matanya mencari – cari sang buah hati yang pernah ada di rahimnya selama sembilan bulan
Dia berlari, tak peduli terhadap reruntuhan yang berserakan
Yang ada dalam pikirannya hanya anaknya
Anak yang menjadi harapannya di masa tuanya nanti

Tangis yang dibendungnya mulai pecah
Dia berteriak memecah semua keramaian mata yang ketakutan
Tak lama tubuh kecil sang ibu tumbang tak tahan menahan pilu kehilangan anaknya

Seorang Bapa yang duduk sendiri dalam teriakan malam itu
Tampak urat – urat tubuhnya menahan duka dan amarah
Menggigil dan gemeretak sendi – sendinya, kaku tak bergerak

Dia yang selalu ceria, sekarang menahan sendu yang dalam
Orang – orang yang dikasihinya telah direnggut nafasnya dengan begitu jahatnya
Dia ingin mendendam, tapi Tuhan tak suka itu
Dia ingin membalas, tapi hanya Tuhan yang layak melakukan itu

Dalam segala kesedihan, kebimbangan, kemarahan, kesepian, dan segala rasa yang dia sendiri tak dapat ungkapkan dengan bebas
Dia hanya bisa mengernyitkan dahi
Dia hanya bisa menggigit bibir
Dia telah kehilangan sebagian jiwanya tanpa permisi

Banyak tanya tak bisa terjawab
Banyak tangis yang tak bisa terhibur
Banyak hidup yang tiba – tiba tertutup
Banyak canda yang terhapus oleh pilu

Kehangatan rumah yang digantikan dinginnya tangisan tiap malam
Karna ingatan akan kerinduan kepada mereka yang tak bisa lagi bertemu dalam kenyataan
Mereka kehilangan oleh teror ketakutan yang tak punya kasih
Kehilangan karna pandangan – pandangan tak manusiawi itu

Mungkin akan banyak yang bertanya, apakah mereka membenci karena kehilangan?
Mungkin jawabannya ya, mungkin juga tidak
Mereka sadar, semua karena kekeliruan pemikiran
Pemikiran yang tak mempertimbangkan kasih

Manusia sungguh sudah sangat hebat menjadi penghakim bagi sesamanya
Manusia sudah menandingi Tuhannya, merampas hak hidup yang lain
Sudah tak ada lagi cinta, sudah tak ada lagi pengertian dan saling menghargai
Entah apa yang menutupi pintu hatinya yang dulu penuh dengan cinta dan kasih

Mereka sendiri tak ada ketakutan lagi kehilangan semua yang terkasih dalam hidup
Aku tahu, ada beribu – ribu benci yang tak tahu siapa yang membangunnya
Karna Tuhan tak pernah menciptakan dengan penuh kebencian

Kita yang memilih, memilih untuk mengambil keputusan membenci
Kita yang memilih, memilih untuk membawa kedamaian atau kegelisahan
Akankah hati kita bersukacita melihat kehilangan – kehilangan yang lain?

Tuhan tak pernah menciptakan manusia dengan kebencian dan kedengkian
Hilangkanlah perasaan sebagai penghakim yang agung
Atau cobalah melihat senyum dari sekitar kita
Apakah senyum dan kebahagiaan mereka tak mengurungkan niatmu untuk tidak memberikan kehilangan bagi mereka?

Sudahlah.......Kehilangan karena dendam takkan pernah menciptakan dunia yang damai
Kita ingin damai, tapi keputusan membuat damai dalam hidup adalah sebuah ketegasan
Damai yang kita pilih, tentunya juga harus menjadi damai bagi sekeliling kita
Karna itulah Tuhan menciptakan Kasih
Kasih itu tidak egois dan tidak cemburu memandang tawa sesamanya
Semoga tidak ada lagi kehilangan semua yang tercinta

Aku yang sedang memperhatikan berita dan membayangkan derita mereka
Semoga Tuhan menguatkan dalam ketidakmampuan kita...........

Di suatu tempat dan waktu yang ku lupa


Comments

Popular posts from this blog

WIWO!

One day, two of my colleagues who were placed in Ampimoi *and Ambai* and a friend who worked in the district court visited me on March 25, 2017. They decided not to tell me first and I was automatically shocked. However, I was happy because of their visit to my location. T hen, they decided at night to visit our friend in Marau. We ask my foster father for help to take us all. . . . Marau is a village of West Yapen District. One of my co-workers from Muara Enim was placed in this village for serving for one year. I often visit my friend because the distance between my placement village (Ansus*) and Marau  was not so far.  I usually went to Marau* by rowing boats or motorboats . According to local people, Marau meant 'going to the sea'. . . . The next day, on Sunday afternoon, my colleagues, my adoptive father and mother, and I have been ready to go to Marau since 2 pm We crossed the shady routes and mangrove forests which were being replanted. We fin...

Veronica ( Batak rasa Jawa )

Saya adalah gadis batak yang lahir di Brebes, tanah Jawa. Dalam kehidupan sosial, seringkali saya diperhadapkan dengan pertanyaan " Kamu orang mana? ". Saya seharusnya tidak bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, tetapi nyatanya, saya sampai sekarang hanya bisa menjawab " Saya berdarah suku Batak lahir di Jawa ". Sebuah jawaban yang panjang untuk pertanyaan yang sederhana. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Batak ", saya tidak fasih berbahasa Batak. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Jawa ", orangtua saya adalah orang Batak. Saya terkadang merasa "tersiksa" dengan pertanyaan ini. Saya juga pernah mendengar orang - orang berkata, " Orang Batak itu kalau berbicara tegas dan keras ya " atau " Suara Orang Batak itu enak ya didengar kalau nyanyi " . Saya sering bergumam dalam hati " Apa semudah itu orang men generalisasi sesamanya? ". Saya adalah orang Batak, tetapi saya hanya bisa bernyany...

Tawa kami di Pantai Pasir Putih Menawi

Ini sekelumit cerita lagi saat di Kepulauan Yapen, Papua.... jeng...jeng...jeng : Tugas negara ( cielah bahasanya ) di sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh laut dan pulau – pulau kecil menyebabkan kami, pengajar muda sudah terbiasa mencari hiburan dengan bermain ke pantai – pantai yang masih elok parasnya .   . . Di suatu malam yang sunyi diiringi bunyi jangkring dan tokek, kami yang beberapa hari singgah dari kampung ke kota, menyambut ajakan mama piara kami di kota Serui untuk berwisata ke pantai pasir putih di Menawi. Kami sangat sumringah mendengar ajakan tersebut, sehingga jadilah kami menyiapkan segala macam perlengkapan tempur untuk besok hari, seperti pakaian ganti. Malam itu, kami juga sibuk menyiapkan berbagai macam makanan ringan dan berat. . . Besok harinya, pagi – pagi benar yang buta, kami memasak nasi dan menyiapkan berbagai macam lauk pauk, seperi ikan mentah, daging ayam mentah, dan berbagai macam yang mentah – mentahlah :D, ...