Skip to main content

Posts

Recent posts

WIWO!

One day, two of my colleagues who were placed in Ampimoi *and Ambai* and a friend who worked in the district court visited me on March 25, 2017. They decided not to tell me first and I was automatically shocked. However, I was happy because of their visit to my location. T hen, they decided at night to visit our friend in Marau. We ask my foster father for help to take us all. . . . Marau is a village of West Yapen District. One of my co-workers from Muara Enim was placed in this village for serving for one year. I often visit my friend because the distance between my placement village (Ansus*) and Marau  was not so far.  I usually went to Marau* by rowing boats or motorboats . According to local people, Marau meant 'going to the sea'. . . . The next day, on Sunday afternoon, my colleagues, my adoptive father and mother, and I have been ready to go to Marau since 2 pm We crossed the shady routes and mangrove forests which were being replanted. We fin...

Kehilangan Hati Nurani

Dalam keheningan suara bising mesin – mesin yang melintas di bawah sorotan lampu malam Terdengar deru tangisan dari seorang istri Seorang istri yang matanya sayu – sayu seraya ingin berteriak memanggil kembali dia, sang nahkoda yang dipaksakan harus pergi Dia hanya bisa mematung dan terlihat sorotan matanya yang bimbang Mungkin hatinya ingin bertanya kepada Tuhan, sang pencipta semesta Mungkin tangannya ingin mengoyak tangan – tangan mereka yang tak punya welas asih Dan mungkin mulutnya ingin mengumpat manusia – manusia sang penghakim itu Di sisi kehingan lain, terdengar seruan seorang ibu Matanya mencari – cari sang buah hati yang pernah ada di rahimnya selama sembilan bulan Dia berlari, tak peduli terhadap reruntuhan yang berserakan Yang ada dalam pikirannya hanya anaknya Anak yang menjadi harapannya di masa tuanya nanti T angis yang dibendungnya mulai pecah Dia berteriak memecah semua keramaian mata yang ketakutan Tak lama tubuh kecil sang ibu tum...

Kekuatanku

Saat ku terjatuh dalam remasan duri dan menusukku Membuat aku ingin berteriak Seketika, ku teteskan air mata ini Terasa perih Mataku tak dapat memandang cerah lagi Debu itu menari - nari di kelopaknya Dan akhirnya aku letih, tak dapat berjalan Aku lumpuh dalam kegelapan dan kepedihan ini Tak ada yang tahu dan mengerti tentang laraku Saat ini, mungkin aku mulai lemah Tak dapat berbuat apa - apa Hinaan dan caci maki di sana sini Hidupku terpojokkan di sudut dunia ini Aku duduk dalam puingan kisahku yang tiada arti kata mereka Dan pada akhirnya, lebih indah, aku memandang langit Tak beberapa lama, aku merasakan sebuah kilas balik hidupku dulu Ya dulu, aku seorang yang penuh semangat Gentar dan ketakutan bukan yang mewarnai dulu Aku merasa ada udara Udara begitu segar, yang mengalir pada jiwaku yang sedang lara Itu begitu menyejukkan dan menenangkan Aku tersentak dan mulai hilangkan lamunanku Duduk tegak, entah begitu kuat saat ini ...

Tawa kami di Pantai Pasir Putih Menawi

Ini sekelumit cerita lagi saat di Kepulauan Yapen, Papua.... jeng...jeng...jeng : Tugas negara ( cielah bahasanya ) di sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh laut dan pulau – pulau kecil menyebabkan kami, pengajar muda sudah terbiasa mencari hiburan dengan bermain ke pantai – pantai yang masih elok parasnya .   . . Di suatu malam yang sunyi diiringi bunyi jangkring dan tokek, kami yang beberapa hari singgah dari kampung ke kota, menyambut ajakan mama piara kami di kota Serui untuk berwisata ke pantai pasir putih di Menawi. Kami sangat sumringah mendengar ajakan tersebut, sehingga jadilah kami menyiapkan segala macam perlengkapan tempur untuk besok hari, seperti pakaian ganti. Malam itu, kami juga sibuk menyiapkan berbagai macam makanan ringan dan berat. . . Besok harinya, pagi – pagi benar yang buta, kami memasak nasi dan menyiapkan berbagai macam lauk pauk, seperi ikan mentah, daging ayam mentah, dan berbagai macam yang mentah – mentahlah :D, ...