Skip to main content

Veronica ( Batak rasa Jawa )

Saya adalah gadis batak yang lahir di Brebes, tanah Jawa. Dalam kehidupan sosial, seringkali saya diperhadapkan dengan pertanyaan " Kamu orang mana? ". Saya seharusnya tidak bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, tetapi nyatanya, saya sampai sekarang hanya bisa menjawab " Saya berdarah suku Batak lahir di Jawa ". Sebuah jawaban yang panjang untuk pertanyaan yang sederhana. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Batak ", saya tidak fasih berbahasa Batak. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Jawa ", orangtua saya adalah orang Batak. Saya terkadang merasa "tersiksa" dengan pertanyaan ini.

Saya juga pernah mendengar orang - orang berkata, " Orang Batak itu kalau berbicara tegas dan keras ya " atau " Suara Orang Batak itu enak ya didengar kalau nyanyi " . Saya sering bergumam dalam hati " Apa semudah itu orang mengeneralisasi sesamanya? ". Saya adalah orang Batak, tetapi saya hanya bisa bernyanyi di kamar mandi, agar suara saya terdengar sedikit indah, karena pantulan bunyi dari tembok yang terbatas.  Suara saya juga tidak keras, ya karena rumah - rumah di daerah saya sudah tidak berjauh - jauhan lagi, dan tidak akan memaksa saya untuk latihan berteriak - teriak untuk memanggil tetangga.

Saya ingat ada teman saya sempat bertanya kepada saya, " Kamu dari Brebes, kenapa tidak medok? ". Hidup 25 tahun di tanah Jawa, tidak membuat lidah saya luwes untuk budaya itu. Saya bisa medok, tetapi itu harus dipaksa dan kalau sedang berbicara dengan teman yang berasal dari Brebes.

Wajah saya juga tidak dapat membohongi orang - orang, untuk berbicara bahwa saya adalah keturunan Sumatera ( Apakah hubungan raut wajah dengan garis keturunan lebih besar, dibandingkan dengan daerah kelahiran dan tumbuh? ).

Ada banyak pengalaman pribadi saya sebagai gadis Batak yang lahir dan tumbuh dewasa di tanah Jawa ( ya ditambah pengalaman berpetualang ke beberapa daerah lain ), sehingga saya memperkenalkan diri saya sebagai gadis Batak rasa Jawa.

Sekian dulu ya. Nanti kalau ada waktu, saya bisa berbagi pengalaman - pengalaman lucu dan bijaksana tentang hidup di dunia yang multikultural. :D


Comments

Popular posts from this blog

Kekuatanku

Saat ku terjatuh dalam remasan duri dan menusukku Membuat aku ingin berteriak Seketika, ku teteskan air mata ini Terasa perih Mataku tak dapat memandang cerah lagi Debu itu menari - nari di kelopaknya Dan akhirnya aku letih, tak dapat berjalan Aku lumpuh dalam kegelapan dan kepedihan ini Tak ada yang tahu dan mengerti tentang laraku Saat ini, mungkin aku mulai lemah Tak dapat berbuat apa - apa Hinaan dan caci maki di sana sini Hidupku terpojokkan di sudut dunia ini Aku duduk dalam puingan kisahku yang tiada arti kata mereka Dan pada akhirnya, lebih indah, aku memandang langit Tak beberapa lama, aku merasakan sebuah kilas balik hidupku dulu Ya dulu, aku seorang yang penuh semangat Gentar dan ketakutan bukan yang mewarnai dulu Aku merasa ada udara Udara begitu segar, yang mengalir pada jiwaku yang sedang lara Itu begitu menyejukkan dan menenangkan Aku tersentak dan mulai hilangkan lamunanku Duduk tegak, entah begitu kuat saat ini ...

WIWO!

One day, two of my colleagues who were placed in Ampimoi *and Ambai* and a friend who worked in the district court visited me on March 25, 2017. They decided not to tell me first and I was automatically shocked. However, I was happy because of their visit to my location. T hen, they decided at night to visit our friend in Marau. We ask my foster father for help to take us all. . . . Marau is a village of West Yapen District. One of my co-workers from Muara Enim was placed in this village for serving for one year. I often visit my friend because the distance between my placement village (Ansus*) and Marau  was not so far.  I usually went to Marau* by rowing boats or motorboats . According to local people, Marau meant 'going to the sea'. . . . The next day, on Sunday afternoon, my colleagues, my adoptive father and mother, and I have been ready to go to Marau since 2 pm We crossed the shady routes and mangrove forests which were being replanted. We fin...

Pulau Tiga, Kepulauan Ambai

Saat itu, saya dan kedua teman saya (Inisial A dan J) sedang berada di kota Serui. Loh ini bagaimana maksudnya "sedang berada di kota Serui"?. Begini, saat itu (2016 - 2017), saya dan kedua teman saya ini sedang diberikan tanggung jawab sebagai Pengajar Muda, Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Nah, selama sekitar 2 sampai 3 bulan, kami tinggal di kampung - kampung penempatan kami masing - masing untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab, dan saat itu, bisa dikatakan, "jatah" kami ke kota 😄. Kami, Pengajar Muda yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Yapen berjumlah 8 orang, tetapi di kesempatan saat itu, saya hanya bertemu dengan 2 dari 8. Ya, kami sering tidak bertemu, ketika masing - masing berencana ke kota, kecuali memang sudah ada jadwal untuk menyelesaikan segala urusan, yang memang hanya bisa diselesaikan di kota saja. Oke, biar tidak panjang dikali lebar alias meluas 😂. Saya akan menceritakan perjalanan wisat...