Skip to main content

Pulau Tiga, Kepulauan Ambai

Saat itu, saya dan kedua teman saya (Inisial A dan J) sedang berada di kota Serui. Loh ini bagaimana maksudnya "sedang berada di kota Serui"?. Begini, saat itu (2016 - 2017), saya dan kedua teman saya ini sedang diberikan tanggung jawab sebagai Pengajar Muda, Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Nah, selama sekitar 2 sampai 3 bulan, kami tinggal di kampung - kampung penempatan kami masing - masing untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab, dan saat itu, bisa dikatakan, "jatah" kami ke kota 😄.

Kami, Pengajar Muda yang bertugas di Kabupaten Kepulauan Yapen berjumlah 8 orang, tetapi di kesempatan saat itu, saya hanya bertemu dengan 2 dari 8. Ya, kami sering tidak bertemu, ketika masing - masing berencana ke kota, kecuali memang sudah ada jadwal untuk menyelesaikan segala urusan, yang memang hanya bisa diselesaikan di kota saja.

Oke, biar tidak panjang dikali lebar alias meluas 😂. Saya akan menceritakan perjalanan wisata ke Pulau Tiga, Kepulauan Ambai.

Begini, singkat cerita, saya, A, dan mas J sedang bosan mengurus beberapa hal di kota, karena kami bertiga sudah 2 hari di kota, dan pada saat itu, A diundang ke kegiatan syukuran siswa kelas 6 SD YPK Baitel Rondepi, distrik Kepulauan Ambai, yang sudah mengikuti Ujian Nasional, dan A adalah pengajar muda di sekolah ini. Orang - orang di Kepulauan Yapen menyebut Ambai sebagai daerah kepulauan seribu, karena banyak pulau - pulau kecil di sekitarnya. Kegiatan syukuran ini akan diadakan di pulau Tiga, salah satu pulau di distrik Kepulauan Ambai.

Saya dan mas J beruntung, karena A mengajak kami berdua untuk ikut juga, sambil cuci mata dan cuci pikiran 😝. Kami berdua mengiyakan ajakan itu. 

Malam itu, kami menyiapkan baju ganti yang tidak tahu bermanfaat atau tidak, setelah berenang di pantai di pulau Tiga nanti. Maksud "bermanfaat atau tidak" adalah tidak ada bangunan rumah di pulau tiga, sehingga tentunya kegiatan berganti pakaian adalah kegiatan yang memerlukan kreatifitas, agar tidak dilihat oleh mata - mata manusia lain. Perlengkapan yang tidak boleh dilupakan adalah kamera. Kamera menjadi kekasih yang selalu wajib dibawa, untuk mengabadikan segala kejadian dan pengalaman indah saat berada di Yapen.

Malam itu, kami yang telah menyiapkan segala perlengkapan berlibur, duduk di ruang tamu rumah orangtua piara kami di kota Serui, yaitu rumah keluarga H. Tanawani. Kakak V yang juga tinggal di rumah itu ikut mendengar rencana kami yang akan ke pulau tiga, dan dia mupeng (muka pengen) ikut. Ya sudahlah, kami ajak juga kakak V ini.

Pagi hari, sekitar jam 8 WIT, kami sudah siap. Kami sudah makan dan membawa beberapa perlengkapan yang akan kami bawa, dan wisata kali ini dilakukan oleh 4 personil. Setelah izin kepada Bapak dan Ibu H. Tanawani, kami memanggil abang - abang ojek. Abang - abang ojek di Yapen ini, banyak yang berasal dari Sulawesi, yaitu Makasar, Buton, dan sebagainya. Biaya naik ojek didalam kota yang dekat - dekat saja yaitu 5 ribu rupiah, tetapi saat itu, kami hendak ke pelabuhan Kabuena, karena perahu yang akan mengantarkan kami ke pulau Tiga, akan menunggu di pelabuhan Kabuena. Jarak dari housefam kami lumayan jauh, karena harus melalui jalanan naik-turun dan topografi gunung. Kami memberikan ongkos kepada abang ojek sekitar 20 sampai 25 ribu rupiah.

Waktu perjalanan romantis dengan abang ojek, yaitu sekitar setengah jam. Kami sampai di pelabuhan Kabuena jam 8.30 WIT. Perahu yang akan menjemput kami, tadinya berjanji akan datang jam 9 pagi, tetapi kenyataannya kami harus menunggu selama 2 setengah jam. Di penantian yang cukup panjang itu (seperti puisi aja nih 😎), kami berempat mengambil beberapa foto di pelabuhan Kabuena dan melihat anak - anak yang sedang memancing ikan dengan nilon. Inilah beberapa foto penghilang kantuk dan bosan kami saat menunggu.

Sumber : Memori kamera mas J

Foto di atas adalah foto orang Poom, Samosir, Gondanglegi yang sedang eksis duduk di meja jualan mama - mama dorang (jangan ditiru ya, karena tidak sopan duduk di meja ya 😞).

Sumber : Memori kamera mas J
Ini adegan ingin ikut terbang dengan burung - burung yang ada di langit pelabuhan Kabuena.

 Sumber : Memori kamera mas J
Ini adegan mace - mace bagosip sambil rondepi (ronda - ronda dalam pikiran)😋.
Setelah asyik berpesta foto, tepat jam setengah 12 siang, perahu semang satu terlihat dari kejauhan. Dalam hati, "Apakah itu perahu yang akan membawa kami ke pulau Tiga?", dan jawabannya adalah.....jawabannya adalah........"Iya, tepat". Perahu dengan semang satu dan ada 2 orang di dalamnya, yaitu pace motoris dan satu anak kecil adalah perahu penyelamat kami, penyelamat dari kebosanan.

Saya adalah pengajar muda yang ditempatkan di Ansus, dan di daerah ini, masyarakat telah terbiasa menggunakan perahu, karena memang perahu adalah alat transportasi utama yang menghubungkan rumah yang satu dengan yang lain. Saya seharusnya sudah terbiasa duduk di perahu dalam perjalanan laut, tetapi tetap saja, saya tegang dalam perjalananan dari Kabuena ke pulau Tiga, karena perahu kami lumayan kecil, semangnya satu, orangnya lumayan gode - gode, dan lupa membawa pelampung (maafkanlah, saya yang sok berani ini, tetapi tidak bisa berenang).

 Sumber : Memori kamera mas J
Ini wajah tersenyum tetapi tegang menyeimbangkan badan😏.

Saya yang tegang ini, tetap memaksa ceria dengan cara berselfie ria bersama kakak V. Foto - fotonya ada, tetapi sa takut kakak ko naksir jadi, jadi tra usah diupload sudah 😜 (Saya takut kamu suka dengan saya, sehingga tidak perlu diupload...hahaha). Saya dan pasukan wisata pulau Tiga begitu mengagumi pemandangan, ciptaan Tuhan yang indah di sekitar Kepulauan Ambai.

Perjalanan Kabuena ke Pulau Tiga hanya kurang lebih 30 menit. Mama - mama, pace - pace, anak - anak, dan guru - guru telah ramai di pulau Tiga. Setelah perahu disandarkan, kami berempat membantu mama - mama memasak nasi dan segala macam ikan untuk dihidangkan di acara syukuran siang itu. Kegiatan memasak yang sungguh menyenangkan, walaupun mata ini harus berair menahan asap dari kayu bakar, tetapi setidaknya, kami tidak merana seperti lagu "Angka Satu", karya Bang Caca Handika. Berikut kebahagiaan kami saat memasak di dapur alam.

 Sumber : Memori kamera mas J
Ini dia ibu - ibu Rondepi, Kepulauan Ambai sedang memasak (Tolong abaikan ibu jaket hijau dan kaos merah!, karena dia hanya numpang eksis). Ibu berkerudung hitam itu mba A. Dia sudah menjadi istri dan ibu juga ya 😇.

 Sumber : Memori kamera mas J
Pria berkaos hitam itu adalah mas J. Dia sudah menjadi suami dari seorang wanita ya. Kemampuannya memasak meningkat selama di Yapen.

 Sumber : Memori kamera mas J
Di foto ini, terlihat mba A sedang memasak ikan rebus. Ikan - ikannya sangat segar loh....karena langsung diambil dari sumbernya. Anak - anak yang pergi molo ikan di dalam air laut hari itu.

Sumber : Memori kamera mas J
Ini adalah tepung sagu. Saya ingatnya, mace ini ingin membuat sinole dan papeda.

Kegiatan masak - memasak sudah selesai. Hidangan mulai disajikan di atas meja yang terbuat dari kayu. Bapak ketua adat memimpin doa sebelum makan dengan cara agama Kristen. Kami makan dengan sukacita dan penuh rasa syukur, karena siswa kelas 6 sudah menyelesaikan Ujian Nasional dan berdoa bersama untuk kelulusan mereka.

 
Sumber : Memori kamera mas J
Inilah penampakan mace - mace Rondepi yang sedang mengambil nasi putih, nasi kuning, kasbi, sinole, papeda, ikan, sayur bunga pepaya. "Aduh, lapar apa. Su cape - cape masak jadi" (Aduh, sangat lapar, karena sudah lelah memasak).

 Sumber : Memori kamera mas J
Beliau adalah kepala sekolah SD YPK Baitel Rondepi.

 Sumber : Memori kamera mas J
Ini adalah sinole (Sinole adalah salah satu makanan yang berbahan dasar sagu yang disangrai bersama kelapa).

 Sumber : Memori kamera mas J
Aduh, Mama, dia bagaya sampe 😍 (Aduh Mama ini sedang bergaya) dengan ikan rebus dan kasbi rebus, dan tidak lupa dengan senyum merah pinang.

 Sumber : Memori kamera mas J
Ini adalah buras cita rasa Yapen.

   Sumber: Memori kamera mas J
Makanan saya dengan porsi yang bisa dilihat. (Tolong, jangan hakimi saya 😋).

 Sumber : Memori kamera mas J
Perempuan - perempuan tangguh (tangguh makannya) 😏.

 Sumber : Memori kamera mas J
Sungguh indahnya, makan bersama di laut sambil memandang ke langit biru yang cerah dan pulau - pulau kecil di kejauhan.

Sumber : Memori kamera mas J
Rangkaian acara makan bersama telah selesai dan tiba saatnya merayakan hari kelahiran Ibu Fonataba, Kepala Sekolah SD YPK Baitel Rondepi. Teman kami, A sudah menyiapkan kue ulang tahun yang dibeli dari toko kue di kota. Kami menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" dan bersama - sama berdoa. Setelah itu, kue yang berlapis cokelat menggoda dibagi - bagi kepada kami yang tidak dapat menahan keluarnya saliva kami. Kami saling menyuapi, dan tentunya tradisi colek wajah dengan krim kue 😆. Wajah ibu Fonataba terlihat berwarna dengan krim hijau dari kue. Selamat ulang tahun, Ibu Fonataba.

Sumber : Memori kamera mas J
"Pace, kue enakkah?". Pace, dia jawab, "Aduh, kue ini enak apa" (Aduh, kue ini sangat enak).

 Sumber : Memori kamera mas J
Makan sudah, berdoa sudah, merayakan ulang tahun sudah, dan waktunya berfoto - foto dengan pasukan Rondepi. "Ibu A, ko pu gaya saja, bikin sa heran?" (Ibu A, kamu bergaya dan membuat saya heran), dalam hati nona berkaos putih.

 Sumber : Memori kamera mas J
Inilah squad Rondepi. Semoga mereka sekolah sampai tinggi dan bermanfaat. Amin.

Sumber : Memori kamera mas J
Mama - mama dorang pu senyum saja, bikin pace - pace pu hati bergetar 😍 (Senyuman ibu - ibu membuat hati Bapak - bapak bergetar).

 Sumber : Memori kamera mas J
Anak - anak Yapen memang tra kosong, pandai berenang di kolam laut yang dalam. Oya, kami berempat tidak jadi berenang, karena lebih asyik memasak, makan, dan berdiskusi dengan ibu dan bapak dari Rondepi (padahal tidak jago berenang 😆).

 Sumber : Memori kamera mas Jarwo
 
Hari itu, matahari mulai beranjak pergi, dan dalam rangka menghindari surut di sore hari, kami memutuskan untuk pulang. Kami berempat diantar ke kota Serui oleh suami ibu Fonataba dengan speed. Inilah wajah kami yang telah otentik (hitam manis) sebelum meninggalkan pulau tiga (kakak V, dia yang foto).

 Sumber : Memori kamera mas J
Wajah yang telah berubah warna menjadi coklat manis tetap tersenyum melihat ke arah bidikan kamera mas J.

Sumber : Memori kamera mas J
Mas J, si paparazi berhasil mengabadikan momen percakapan yang saya lupa temanya.

 Sumber : Memori kamera mas J

Saya seperti mengarung samudera Papua dan bernyanyi :

Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa
 
Angin bertiup layar terkembang, ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b'rani bangkit sekarang, ke laut kita beramai-ramai


Inilah pengalaman saya di pulau Tiga. Saya merasa menyenangkan mengingat pengalaman di Yapen. Pengalaman lebih berharga dibandingkan mengingat kisah cinta tak terbalas (bercanda ya 😆).


fyi :
  1. Serui adalah ibukota dari Kabupaten Kepulauan Yapen. 
  2. Housefam artinya rumah singgah 
  3. Dorang artinya dia orang 
  4. Pace artinya bapak 
  5. Motoris adalah orang yang memegang kemudi motor perahu atau speed 
  6. Semang adalah penyeimbang perahu yang dipasang di salah satu atau kedua sisi perahu 
  7. Gode artinya besar 
  8. Molo adalah menangkap ikan dengan menyelam ke dasar laut yang sering dilakukan oleh masyarakat pesisir Papua 
  9. Mace artinya ibu 
  10. Papeda adalah makanan khas Papua yang terbuat dari tepung sagu yang diaduk dengan air mendidih 
  11. Kasbi artinya singkong, ubi kayu 
  12. Tra kosong artinya pintar, hebat
*Terima kasih kepada kamera mas J

Comments

Popular posts from this blog

WIWO!

One day, two of my colleagues who were placed in Ampimoi *and Ambai* and a friend who worked in the district court visited me on March 25, 2017. They decided not to tell me first and I was automatically shocked. However, I was happy because of their visit to my location. T hen, they decided at night to visit our friend in Marau. We ask my foster father for help to take us all. . . . Marau is a village of West Yapen District. One of my co-workers from Muara Enim was placed in this village for serving for one year. I often visit my friend because the distance between my placement village (Ansus*) and Marau  was not so far.  I usually went to Marau* by rowing boats or motorboats . According to local people, Marau meant 'going to the sea'. . . . The next day, on Sunday afternoon, my colleagues, my adoptive father and mother, and I have been ready to go to Marau since 2 pm We crossed the shady routes and mangrove forests which were being replanted. We fin...

Veronica ( Batak rasa Jawa )

Saya adalah gadis batak yang lahir di Brebes, tanah Jawa. Dalam kehidupan sosial, seringkali saya diperhadapkan dengan pertanyaan " Kamu orang mana? ". Saya seharusnya tidak bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, tetapi nyatanya, saya sampai sekarang hanya bisa menjawab " Saya berdarah suku Batak lahir di Jawa ". Sebuah jawaban yang panjang untuk pertanyaan yang sederhana. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Batak ", saya tidak fasih berbahasa Batak. Jika saya menjawab " Saya adalah orang Jawa ", orangtua saya adalah orang Batak. Saya terkadang merasa "tersiksa" dengan pertanyaan ini. Saya juga pernah mendengar orang - orang berkata, " Orang Batak itu kalau berbicara tegas dan keras ya " atau " Suara Orang Batak itu enak ya didengar kalau nyanyi " . Saya sering bergumam dalam hati " Apa semudah itu orang men generalisasi sesamanya? ". Saya adalah orang Batak, tetapi saya hanya bisa bernyany...

Tawa kami di Pantai Pasir Putih Menawi

Ini sekelumit cerita lagi saat di Kepulauan Yapen, Papua.... jeng...jeng...jeng : Tugas negara ( cielah bahasanya ) di sebuah kabupaten yang dikelilingi oleh laut dan pulau – pulau kecil menyebabkan kami, pengajar muda sudah terbiasa mencari hiburan dengan bermain ke pantai – pantai yang masih elok parasnya .   . . Di suatu malam yang sunyi diiringi bunyi jangkring dan tokek, kami yang beberapa hari singgah dari kampung ke kota, menyambut ajakan mama piara kami di kota Serui untuk berwisata ke pantai pasir putih di Menawi. Kami sangat sumringah mendengar ajakan tersebut, sehingga jadilah kami menyiapkan segala macam perlengkapan tempur untuk besok hari, seperti pakaian ganti. Malam itu, kami juga sibuk menyiapkan berbagai macam makanan ringan dan berat. . . Besok harinya, pagi – pagi benar yang buta, kami memasak nasi dan menyiapkan berbagai macam lauk pauk, seperi ikan mentah, daging ayam mentah, dan berbagai macam yang mentah – mentahlah :D, ...